Pesta Demokrasi
Nama :I Made Deni Karnadi
NIM : 12210084
Pesta Demokrasi
Suasana jalanan desa yang sejak beberapa bulan yang lalu sudah dipenuhi oleh baliho dan spanduk tiga bakal pilkades. Sudah sangat jelas menandakan bahwa akan digelarnya pesta demokrasi. Obrolan bapak-bapak yang biasa nongkrong dan ngopi di warkop akhir-akhir ini berubah menjadi sedikit serius semenjak pemilihan kades yang sempat ditunda karena pandemi Covid-19. Akhirnya memasuki babak baru, yang rencananya akan digelar bulan depan. ru, yang rencananya akan digelar bulan depan.
“Akhirnya, ada perkembangan soal pemilihan kades made, semoga saja rencana pemungutan suara di desa kita benar dilaksanakan bulan depan”
“Betul put, dagang di situasi pandemi begini juga lagi sepi, kalau ada pesta demokrasi kan setidaknya kita dapet sembako dan amplop dari tiga calon kepala desa”
“Alah, kamu Made Made sok-sok an pake bahasa pesta demokrasi segala udah kayak orang sekolah aja”
“Tapi bener put, apa kata made barusan, setidaknya kan kalau ada pesta demokrasi kita semua bisa dapet sembako dan calon kades bakal sering-sering ngadain acara silaturahmi” sambung Bu sari pemilik Warkop
“Tapi saya denger-denger calon kades nomor 1, baru jual mobil buat modal kampanye, padahalkan baru kemarin jual tanah warisan bapaknya”
“Bukan Cuma nomor 1 put, calon kades nomor 2 sama nomor 3 juga gak kalah. Mereka berdua juga pasti nyiapin modal yang gak sedikit buat bersaing dalam pesta demokrasi”
“Bu, Kopi susu nya satu ya!” raka seorang mahasiswa yang dikenal pintar didesa nya tiba-tiba datang ke warkop Bu sari.
“kayaknya seru banget nih pak putu sama pak made ngobrolnya, lagi ngomongin apa nih?” tanya raka
“Nah kebetulan nih Raka ada kamu, saya mau nanya sebenernya apa sih pesta demokrasi itu? Soalnya si Made nih dari tadi sebut kata itu terus padahal kan kita lagi ngomongin pilkades”
“Tumben nih bahas pesta demokrasi segala, karena pilkades yang sempet ditunda kemarin mau diadain sebentar lagi ya”
“Iya nih raka, putu malah ngomongin calon nomor 1 yang baru aja jual mobil sama tanah warisan bapaknya”
Bukan Cuma calon nomor 1 sih, nomor 2 sama 3 juga pasti persiapan duit nya gak sedikit” sambung Made .
“Bener tuh raka , apa pesta demokrasi makan uang banyak ya” tanya Bu sari sambil memberikan kopi yang dipesan raka
“Jadi binggung jawabnya, satu belum dijawab udah dikasih pertanyaan lagi”
“Pesta demokrasi itu sebenarnya Cuma istilah keren aja dari pemilihan, mau itu pemilihan presiden, pemilihan gubernur, sampe pemilihan kades”
“Tapi Kenapa disebut pesta Raka, kan Cuma memilih?” Tanya pak putu”
Karena dalam demokrasi, sistem pemerintahannya diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dimana kita sebagai warga punya hak dalam mengambil bagian perihal keputusan yang akan mempengaruhi kehidupan dalam bernegara, salah satunya dalam hal memilih pemimpin, termasuk kades.jadi pesta disini artinya kita semua punya hak yang sama untuk bisa memilih secara bebas”
“Tapi Raka, saya gak terlalu peduli dengan keputusan yang mempengaruhi kehidupan bernegara, lagian juga warga disini kebayakan gak peduli sama hal yang kamu bicarakan tadi. Yang penting saya dapat sembako dan amplop. Yang namanya pesta demokrasi itu, para kades yang mengadakan pesta dan kita semua yang menikmati pesta tersebut. Siapa yang paling gede isi amplop nya dan paling banyak isi sembako nya, dia yang akan dipilih oleh warga dan jadi kepala desa” Sanggah Pak Made.
“Nah bener tuh Raka , dari pemilihan kades sebelum-sebelumnya juga udah membudaya calon kepala desa bagi-bagi sembako dan amplop ke warga” Tambah Bu Sari.
Raka yang baru saja menjadi mahasiswa kebingungan, pasalnya pemahaman yang selama ini ia dapat di kampus berbeda dengan pemahaman warga di desa nya. Walau hanya beberapa kali mengikuti mata kuliah pengantar Ilmu Politik, tapi budi tau ia sebagai mahasiswa punya peranan sebagai agent of change. Dalam hal ini bagaimana caranya merubah pandangan warga kota tentang politik dan demokrasi. Budi tidak boleh menjawab secara spontan dan sembarangan, ia harus berpikir
keras bagaimana menyampaikan cara berdemokrasi yang benar dengan cara sesederhana mungkin.
“Tapi sebenernya berapa sih gaji kades itu, sampe kepala desa berani ngeluarin modal gede, sampe nekat jual mobil sama tanah” Tanya Pak Putu
“Yang pasti gaji nya kades, lebih besar dari penghasilan warkop saya sih” celetuk Bu Sari
“Walaupun kecil put, tapi kades itu punya wewenang dalam banyak hal, terutama soal perizinan dan lain-lain. Penghasilan kepala desa bukan Cuma dari gaji dan tunjungan tapi ada dari yang lain-lain juga, Nah disitu kepala desa bisa balik modal” Jawab pak made
Raka yang masih kebingungan dengan tanggapan pak made sebelumnya dibuat tambah binggung dengan jawaban pak made perihal penghasilan kepala desa. Pasalnya yang ia tau, money politics is a mother of corruption. Politik uang itu akar dari korupsi. Dan pak Made secara sadar mengetahui kalau para kades yang akan ia pilih punya kemungkinan untuk korupsi.
“Belajar politik di kuliah aja bikin pusing, ditambah realita ini bikin tambah pusing” ucap Raka dalam hatinya
Setau saya ya pak, bu, dalam demokrasi, rakyatlah yang berhak menuntut pertanggungjawaban pemimpin. Tapi, kalau calon pemimpin beli suara, kita sebagai pemilih yang justru dimintai pertanggungjawabannya, karena kita mau menukar mandat demokratis dengan sembako dan uang yang gak seberapa” Raka mencoba menjawab pertanyaan
“Jadi kalau cakades yang kita pilih korupsi atau melalukakan kesalahan, kita gak bisa minta pertanggungjawaban beliau dong Raka? Karena suara kita sudah dibeli” ujar pak Putu.
“Bener tuh pak putu , rakyat atau warga tidak lagi memiliki kedaulatan penuh atas suara dan partisipasi nya dalam sebuah pagelaran politik karena suaranya sudah dibeli”
“politik uang itu adalah the mother of corruption, artinya politik uang itu akar dari korupsi. Sangat besar potensi nya untuk korupsi. Mau gimana pun juga, kepala desa akan berpikir bagaimana cara balik modal terlebih dahalu dibanding bagaimana mensejahterakan warga. Jadi jangan kaget kalau nanti ada bantuan dari pemerintah disunat sama pihak kota” tambah Raka.
“Alah kamu Raka, omongan kamu terlalu ribet. Kalau cades nya korupsi ya salah kepala desa nya dong. Dosa juga dosa yang melalukan korupsi. Saya sebagai warga, Cuma mau ikut memeriahkan pesta demokrasi ini aja ”
“Lagian lumayan juga karena ada pesta demokrasi ini, calon kades setiap minggu buat acara silaturahmi dan makan-makan. Kadang dikasih amplop juga. Kan lumayan raka , ibu gak perlu masak dan ada tambahan buat belanja” Tambah Bu Sari”
“Kamu ada benernya Raka, Tapi malah aneh kalau pesta demokrasi gak ada bagi- bagi sembako dan amplop. Mubazir juga kalau kamu dikasih sembako atau amplop malah nolak. Apalagi diajak silaturahmi dan makan-makan sama warga yang lain. Kan gak enak kalo nolak”
Raka semakin mengerti apa yang selama ini yang katakan oleh dosennya “demokrasi tidak akan terjadi jika tidak ada transaksi”. Dan Ia semakin yakin apa yang dikatakan oleh seorang satiris, aktifis politik dan juga seorang penulis esai
dan novel yaitu George Bernard Shaw yang berbicara soal demokrasi. “Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan yang dipergilirkan melalui pemilu, di mana orang banyak yang tak kompeten menunjuk sedikit orang yang korup.” Raka menyaksikan langsung apa yang dikatakan oleh Shaw, dimana orang yang tak kompeten menunjuk sedikit orang yang korupsi.
Praktik money politics yang terjadi membuat Raka sadar bahwa sistem demokrasi tidak lagi sesuai dengan definisi ideal yang ia pelajari selama di sekolah dan kuliah. Dimana rakyat tidak lagi memiliki kedaulatan penuh atas suara dan partisipasi nya dalam sebuah pesta demokrasi. Praktek money politics di anggap sebagai suatu kewajaran oleh warga dikampungnya tanpa tau seberapa bahaya dan merusak sistem demokrasi. Money politics juga tidak dianggap sebagai sesuatu yang salah secara normatif. Sehingga warga membiarkan hal itu.
Raka juga tahu kalau praktek money politics bukan hanya terjadi pada saat pemilihan kades saja, namun lumrah terjadi juga pada pesta demokrasi yang lebih besar. Demokrasi dan money politics seolah dua kata yang sulit dipisahkan, apalagi ketika membahas soal demokrasi di Indonesia.
Raka gelisah dengan apa yang terjadi di desa nya. Ia sempat bercita-cita menjadi Kades suatu saat nanti. Tapi Raka sadar ia hanyalah orang biasa yang tidak punya kemampuan finansial yang mumpuni untuk bisa bersaing dalam kancah pesta demokrasi, walaupun hanya di tingkat desa. Tapi dia tetap optimis akan ada perubahan untuk desa nya dan sistem demokrasi di Indonesia.
Komentar
Posting Komentar